Jumat, 09 September 2016

bebek galak dapat sertifikasi halal MUI

bebek galak

Alhamdulillah BEBEK GALAK RESTO sudah bersertifikasi halal dan gratis ..tis (tidak dipungut biaya sepeser pun), dan Allah selalu menolong orang yg berniat menjauhi riba.... amiiin ya Allah, tinggal satu step lagi mendaftarkan merk dagang. (hasil perjuangan sang istri)

sumber fb: yan Rachmat

Rabu, 07 September 2016

Tinta Cetak Difatwakan Halal Dan Suci



Jakarta – Komisi Fatwa (KF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam sidang 31 Agustus 2016 lalu membahas dan menetapkan fatwa halal dan suci untuk produk tinta cetak. “Memang tinta cetak itu tidak termasuk kategori produk pangan, tapi sebagai barang gunaan. Dan ketentuan halal bagi barang gunaan itu tercakup juga dalam ketetapan Undang-undang No. 33, Th. 2014, tentang Jaminan Produk Halal,” tutur Dr. Asrorun Niam Sholeh, M.A., Sekretaris KF MUI usai memimpin sidang fatwa tersebut. 

Selasa, 28 Juni 2016

Tukar Uang Receh Menjelang Lebaran, Ribakah?


Pertanyaan :
Assalamualikum warrohmatulahi wabarokatuh,
Pak Ustad saya mau tanya tantang bagaimana hukumnya menukar uang seratusan ribu menjadi uang pecahan 5 ribuan atau 10 ribuan.

Biasanya uang seratus ribu ditukar dengan uang pecahan lima ribuan, tapi nilainya jadi berkurang, misalnya cuma jadi 95 ribu.

Fenomena ini biasanya kita saksikan menjelang datangnya lebaran, dimana banyak orang yang ingin memberi semacam angpau atau hadiah buat anak-anak dalam bentuk uang.

Syukron

Jumat, 15 Januari 2016

Sertifikat Halal McDonalds Telah Diperpanjang


Sidang Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (KF-MUI) yang dilangsungkan di Jakarta, 13 Januari 2016 menetapkan fatwa halal bagi perusahaan-perusahaan yang mengajukan proses sertifikasi halal ke Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI. Sejumlah 34 perusahaan yang ditetapkan fatwa halalnya oleh KF-MUI diantaranya merupakan perusahaan yang baru pertama kali mengajukan permohonan sertifikasi halal, untuk proses pengembangan produk, maupun perpanjangan sertifikat halal yang telah habis masa berlakunya. 
 

Jumat, 18 September 2015

Problema Kuas dari Bulu Babi

Kuas dari bulu babi jadi bahan yang diperbincangkan saat ini. Realitanya, kuas semacam ini sudah banyak tersebar. Mungkin karena bulu babi dijual dengan harga relatif murah sehingga banyak digunakan untuk kuas. Kuas ini digunakan untuk berbagai keperluan termasuk pula untuk mengoles kue, di antara kuas tersebut adalah yang berlabel “bristle”. Apakah kuas seperti ini boleh digunakan? Bagaimana dengan bulu babi itu sendiri, apakah najis?


Menurut mayoritas ulama, bulu atau rambut babi itu najis, maka tidak boleh digunakan karena sama saja menggunakan sesuatu yang najis secara zatnya. Ulama Hanafiyah masih membolehkan penggunaannya jika dalam keadaan darurat. Sedangkan ulama Malikiyah menganggap bahwa bulu babi itu suci. Jika bulu tersebut dipotong, maka boleh saja digunakan, meskipun terpotongnya setelah babi tersebut mati. Alasannya, bulu atau rambut bukanlah bagian yang memiliki kehidupan. Sesuatu yang tidak memiliki kehidupan, maka tidaklah najis ketika mati. Namun dianjurkan untuk mencuci bulu tersebut jika ragu akan suci atau najisnya. Sedangkan jika bulu babi tersebut dicabut, maka tidaklah suci.

Rabu, 09 September 2015

Status Kehalalan Flavor Pada Minuman



 Kompleksitas proses produksi industri pangan masa kini, mengakibatkan status kehalalan produk yang dihasilkan menjadi syubhat, atau diragukan dalam kaidah syariah. Demikian dikemukakan Wakil Direktur LPPOM MUI, Ir. Muti Arintawati, M.Si., pada pembukaan Pelatihan Sistim Jaminan Halal (SJH), Selasa, 1 September 2015 di Bogor.
 
Sebagai contoh perbandingan, minuman dari tebu dan minuman rasa strawberry, ia menjelaskan kepada 44 peserta pelatihan yang dilangsungkan pada 1-3 September 2015 di Global Halal Center Bogor. Minuman dari tebu yang diolah secara tradisional, tentu tidak diragukan kehalalannya. Yaitu minuman yang diperoleh dari batang tebu yang sudah tua, lalu digiling atau diperas airnya, menjadi minuman tebu yang manis alami, menyegarkan. Berbeda dengan minuman rasa strawberry yang diproses dengan teknologi industri masa kini, lazimnya menggunakan banyak bahan tambahan.  
 

Jumat, 04 September 2015

Hukum Zat Pewarna Makanan Dari Serangga



Pertanyaan
Assalamu’alaykum warahmatullah
Perkembangan ilmu dan teknologi saat ini berlangsung sangat cepat, termasuk di bidang pangan. Sehingga bahan-bahan yang tak diduga semula, kini malah dapat dimanfaatkan untuk bahan konsumsi. Termasuk bahan pewarna untuk makanan dari serangga.
Tentang hal ini, saya mendapat informasi dari rekan yang bekerja di industry pengolahan makanan, ada sejenis serangga yang katanya dari kawasan Amerika Selatan dan Meksiko, dapat dimanfaatkan sebagai sumber zat pewarna untuk produk pangan, obat-obatan dan kosmetika. Maka saya ingin bertanya, apakah hukumnya memanfaatkan dan menggunakan hewan serangga itu untuk bahan makanan yang kita konsumsi?
Demikian pertanyaan dari kami dan atas jawaban yang diberikan kami mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya.
Wassalam
Hendri
Kawasan Industri Bekasi